Karakteristik Dan Keistimewaan Bahasa Arab (3)

Bahasa yang paling tua dalam sejarah dan akan selalu dijaga Allah – ta’ala – sepanjang masa.
Para ulama sejarah berbeda pendapat mengenai sejak kapan bahasa Arab itu ada? Akan tetapi, satu hal yang tidak dapat diragukan bahwa bahasa Arab telah ada sejak kurang lebih 15 abad yang lalu, dan tidak mengalami perubahan hingga saat ini.

Kaum muslimin yang memahami bahasa Arab, saat ini ia mampu untuk memahami perkataan orang-orang Arab 15 abad yang lalu. Bagaimana hal tersebut terjadi? Seperti yang kita ketahui, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengherankan. Bukankah bagi kita yang sekarang ini memahami bahasa Arab mampu untuk memahami sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang disabdakan kurang lebih 15 abad yang lalu? Bukankan sekarang ini kita mampu memahami perkataan para sahabat yang diucapkan pada waktu yang sama? Bahkan kita pun mampu memahami syair-syair Arab sebelum Islam. Kistimewaan ini mutlak hanya ada pada bahasa Arab dan tidak ada pada bahasa yang lain.

Bahasa Arab merupakan bahasa tertua di dunia. Bahasa ini telah lama ada dan akan terus ada sepanjang masa karena Allah– subhanahu wa ta’ala – yang secara langsung menjaga dan melindunginya. Pada saat dunia menyaksikan punahnya berbagai bahasa yang ada dalam sejarah, di saat yang sama dunia akan menyaksikan terjaganya bahasa Arab sepanjang zaman.
Allah – subhanahu wa ta’ala – berfirman :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. Al-Hijr : 9)

Al-Ustadz Abbas Mahmud Aqqad berkata : “Dan kami meyakini bahwa bahasa Arab adalah bahasa tertua dibandingkan dengan mayoritas bahasa yang ada sekarang. Adapun bukti-bukti yang menunjukkan hal tersebut melebihi bukti-bukti yang digunakan sebagai dalil tuanya bahasa-bahasa kuno yang lain”. (KitabAsytatu Mujtamiat fi Al-Lughah wa Al-Adab,Abbas Mahmud Al-Aqqad, Halaman 16-17)

Memiliki Al-I’rab.

Di antara keistimewaan lain yang dimiliki bahasa Arab adalah “Al-I’rab”. Yang dimaksud dengan Al-I’rabadalah perubahan harakat huruf terakhir suatu kata dalam bahasa Arab. Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Ash-Shinhaji – rahimahullahu ta’ala – mendefinisikan Al-I’rabdalam kitabnya yang masyhur, Al-Ajurumiyyah sebagai berikut : “Al-I’rabadalah perubahan harakat huruf terakhir suatu kata, dikarenakan perbedaan ‘amil(Yang dimaksud ‘amil adalah kata yang jika berubah maka berubah juga harakat huruf terakhir suatu kata) yang masuk atasnya, baik perubahan ini bersifat lafazh(yang tampak) atau secara taqdir (yang tidak tampak)”. (Kitab Syarh Muqaddimah Al-Ajurumiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Halaman 39)

Ini adalah salah satu dari sekian banyak karekteristik khusus yang dimiliki bahasa Arab. Perubahan harakat huruf terakhir berarti berubahnya makna serta posisi/kedudukan suatu kata, sehingga berkonsekuensi terhadap perubahan hokum yang dapat disimpulkan dari perubahan tersebut. Hal ini tentu menjadi satu hal penting yang harus diperhatikan setiap muslim, khususnya bagi setiap penuntut ilmu syar’i. Adapun salah satu cabang ilmu yang membahas masalahi’rab adalah ilmu Nahwu.

Jika kita salah dalam menentukan harakat huruf terakhir dari suatu kata dalam bahasa Arab maka dapat menimbulkan kesalahpahaman makna. Hal tersebut akan berakibat pada kesalahan menyimpulkan suatu hukum dari suatu perkataan. Hal ini tentu sangat berbahaya, terlebih jika menyangkut hukum syar’i suatu permasalahan.

Seseorang bisa jadi salah dalam menentukan hukum syar’i jika salah dalam menentukan i’rab dari suatu kata. Untuk memperjelas hal tersebut, mari sama-sama kita perhatikan firman Allah – subhanahu wa ta’ala – berikut ini :

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.(QS. Fathir : 28)

Apabila kita perhatikan lafazh (tulisan) “Allah” maka kita temukan harakat huruf terakhirnya adalah fathah, kerana posisinya di sini sebagai “maf’ulun bih” atau objek. Adapun lafazh “ulama”, harakat terakhirnya adalah dhammah, karena posisinya sebagai “fa’il” atau subjek. Ini merupakan harakat huruf yang benar yang kita temukan dalam Al-Qur’an.

Akan tetapi, jika seandainya ada seseorang salah membaca ayat tersebut, yaitu dengan mengubah harakat huruf terakhir dari lafazh Allah tersebut menjadi dhammah, lalu harakat huruf terakhir dari kata ulama menjadi fathah, maka ini akan mengubah makna ayat secara bertolak belakang, dan berkonsekuensi pada hukum yang salah. Jika terjadi demikian maka makna ayat tersebut menjadi : 

Sesungguhnya yang takut kepada para ulama di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Allah”.

Oleh karena itu, penting bagi siapa saja yang ingin mempelajari bahasa Arab agar memperhatikan ilmu Nahwu secara khusus, agar tidak terjatuh ke dalam kesalahan seperti contoh di atas. (Lihat contoh-contoh lainnya dalam kitab At-Ta’liqat Al-Jaliyah ‘ala Syarh Al-Muqaddimah Al-Ajurumiyyah, Halaman 44-45)

bersambung . . . 

Tags: