Mengenal Imam Sibawaih

Makam Imam Sibawaih di Syiraz
Siapa sebenarnya Imam Sibawaih? Semua orang yang pernah mencicipi belajar Ilmu Nahwu dan Sharaf, pasti pernah terlintas di telinganya nama Sibawaih. Bahkan nama tersebut sering diulang-ulang.
Nama itu tidaklah asing bagi para penuntut Ilmu Syar’i dan ilmu-ilmu alat pendukungnya, seperti bahasa Arab dengan 12 cabang-cabang yang dimilikinya.
Terutama bagi mereka yang mendalami  ilmu Nahwu lebih lanjut dan mempelajari perbedaan pendapat yang terjadi di dalamnya. 
Ternyata tidak hanya dalam masalah fikih para ulama berbeda pendapat, bahkan dalam disiplin ilmu Nahwu para ilmuwan berselisih pendapat.

Ya, beliau adalah Imam Ahli Nahwu.  Jika disebutkan ulama Nahwu, maka nama beliaulah yang paling pertama kali disebut. (Baca juga : Apa itu Ilmu Nahwu?)
Siapakah sebenarnya beliau? Berikut ini biografi singkat Imam Sibawaih:
Nama lengkap beliau adalah Amru bin Utsman bin Qanbar. Sibawaih adalah julukan beliau. Diambil dari bahasa Persia yang terdiri dari 2 pecahan kata, yaitu”sib” artinya buah apel, dan “waih” artinya wangi, jadi Sibawaih artinya wangi buah Apel. Atau ada juga yang mengatakan alasan kenapa beliau mendapat julukan Sibawaih karena kedua pipinya bagaikan buah apel.

Para ahli sejarah tidak banyak menemukan catatan tentang asal muasal keluarga Sibawaih, dan bagaimana kondisi serta keadaan keluarganya secara sosial dan keilmuan. Tapi dari beberapa catatan yang ada menunjukkan bahwa keluarga beliau berasal dari Persia.
Para sejarawan berselisih pendapat, kapan beliau lahir, dikarenakan rujukan dan referensi yang minim sekali. Ada beberapa ahli sejarah yang mengatakan kalau beliau lahir pada tahun 148H/765M. Tapi ada beberapa ahli sejarah yang mengatakan selain dari itu.
Dan yang pasti adalah beliau lahir di Albaidha’ (sebuah wilayah bagian dari Kekaisaran Persia). Walaupun lahir di Persia, namun Imam Sibawaih tumbuh dan besar di Bashra (Iraq).
Di awal menuntut ilmu, Sibawaih mendatangi masjis hadits yang diasuh oleh seorang Imam Hadits besar bernama Hammad bin Salamah Al-Bashri. Hingga suatu saat Sibawaih menyanggah sebuah hadits yang disampaikan oleh gurunya dan mengkritikinya dari sisi kaidah bahasanya. Dan ternyata apa yang disanggah oleh Sibawaih adalah salah, hingga menyebabkan sang guru marah dan berkata :”Wahai Sibawaih, kamu telah salah besar, itu tidak seperti yang kamu kira”. Lantas Sibawaih berkata :”Sungguh aku akan pelajari sebuah ilmu, yang dengannya aku tidak akan disalahkan lagi”. Maka ia pun mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab hingga ia mahir dan menjadi ahli di bidang tersebut.
Guru-gurunya :
Hammad bin Salamah Al-Bashri termasuk guru Sibawaih yang paling terkenal. Namun setelah ia memutuskan untuk beralih mempelajari ilmu bahasa Arab, maka ia pun berguru pada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Ia berguru kepadanya penuh dengan rasa suka, tekad bulat dan keinginan yang kuat. Iapun mengikuti gurunya seperti bayangan mengikuti sebuah benda. Dan pengaruh gurunya itu terlihat jelas di lembaran-lembaran kitab karyanya.
Sibawaih tidak puas hanya berguru ilmu Nahwu dan bahasa Arab kepada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, ia pun turut berguru kepada Yunus bin Habib, Isa bin Umar dan lain-lainnya. Maka terbukalah wawasan dan keilmuan Sibawaih, dan dengannya ia memperoleh martabat kelimuan yang spesial.
Kemudian ia pun marantau ke Baghdad pusat Dinasti Abbasiyah yang merupakan pusat peradaban dan keilmuan. Dan disana ia bertemu dengan Kisa’i (guru besar orang-orang Kufah). Dan terjadilah beberapa diskusi dan perdebatan dalam masalah Nahwu, dan yang paling terkenal adalah almas-alah az-zanbuuriyyah (diskusi tentang tawon). Dan yang menjadi pemenang adalah Kisa’i, karena ia memberikan hadiah kepada orang-orang Arab Badui jika ia membantu kemenangan Kisa’i.
Setalah perdebatan itu Sibawaih tidak menetap lagi di Baghdad, dan ia kembali ke negeri asalnya Persia dan tidak kembali lagi ke Bashra.
Murid-muridnya :
Sibawaih tidak memiliki murid yang banyak, dikarenakan masa hidupnya yang singkat sebelum akhirnya ia meninggal. Di antara mereka berguru darinya dan menonjol adalah Abul Hasan Al-Akhfasy dan Quthrub (kecoa). Alasan kenapa ia disebut dan dikenal dengan julukan itu, karena suatu saat Sibawaih keluar di waktu menjelang terbitnya fajar, dan ia melihatnya berdiri di depan pintu, lalu Sibawaih berkata : “Sungguh kamu itu quthrub malam”, karena quthrub adalah binatang yang selalu bergerak dan tidak pernah diam (berhenti bergerak).
Perkataan para Ulama tentangnya :
Kitab Sibawaih
  1. Ibnu Aisyah berkata : “Dahulu kita duduk bersama Sibawaih Ahli Nahwu di masjid, dan dia adalah seorang pemuda yang tampan dan tampilannya bersih, dari setiap ilmu dia memiliki ilmunya, dan dalam disiplin ilmu sastra ia memiliki saham, dengan usianya yang masih belia, ia jago dalam ilmu Nahwu”.
  2. Mu’awiyah bin Bakr Al-‘Alimi : “Aku sudah pernah melihat Amru bin Utsman (Sibawaih) dan usianya masih belia sekali, pada zaman itu aku mendengar bahwa dialah orang yang paling kuat ilmunya di antara mereka yang berguru dari Al-Khalil, dan sungguh aku telah mendengarnya menyampaikan pelajaran dan berdebat, namun bicaranya lemah, dan ketika aku membaca bukunya, aku mendapati bahwa ilmu (di buku)nya lebih kuat dari (yang keluar) dari lidahnya”.
  3. Al-Azhari berkata : “Sibawaih dianggap sebagai ikon dalam bagusnya penyusunan (buku), dia berguru kepada Al-Khalil (bin Ahmad Al-Farahidi) dan menimba ilmu darinya, dan aku tidak pernah mengetahui ada satu orang pun yang pernah membaca di hadapannya buku (yang ia susun), karena ia meninggal dalam usia muda, lalu aku pun membaca bukunya, dan ternyata aku dapati di dalamnya ilmu yang sangat luas”.
Dialih bahasakan dan diolah dari Wikipedia oleh admin sendiri.

Leave a Reply